Offroad di Lido … seruu !!
Juli 23, 2006
Satu kata … seru …
Itulah mungkin yang terpikir setelah selesai mengelilingi track offroad di daerah Bodogol, Danau Lido. Diikuti oleh 14 orang peserta
Petualangan dimulai dari kantor. Rencana berangkat jam 6.00, molor satu jam dikarenakan menunggu truck pengangkut sepeda yang belum kunjung datang juga. Selain itu juga team pembawa sarapan, nasi uduk, datang agak terlambat
info terakhir yang terdengar seh karena terlambat bangun
)
Setelah nasi uduk datang, maka diputuskan untuk sarapan dulu bareng-bareng. Segera saja semua duduk rapi berjajar, setelah mengambil bungkusan nasi uduk, sendok, krupuk. Nyam … nyam .. nyam … enak juga sarapan pagi bareng-bareng, meskipun cuman duduk di lantai
para fotografer (yang kebetulan juga ikut kegiatan offroad kali ini) pun tak lupa untuk jeprat jepret merekam momen tersebut dalam gambar.
Tak lama
berselang setelah selesai sarapan, truk pengangkut terlihat memasuki pos satpam, dan selanjutnya mendekat ke tempat kita berkumpul. Segera semua bersiap untuk menaikan sepeda ke truk pengangkut. Setelah diskusi sebentar dengan pemilik truk, maka diputuskan untuk mengangkut sepeda dengan roda depan dilepas, sehingga handle-bar bisa lurus dengan frame. Dan ternyata disc-brake hidrolik, ketika ban dilepas harus diberi pengganjal agar bila tuas rem tertekan tidak menjadi terkunci.
Oke semua sepeda sudah naik ke truk, segera pintu bak truk ditutup, dan truk berangkat terlebih dahulu. Dan karena dapet fasilitas dari kantor 2 mobil untuk mengantar peserta offroad kali ini ke lokasi, maka rombongan dibagi menjadi 2. Rombongan yang aku ikutin kebetulan becanada terus sepanjang perjalanan, karena dengan prinsip bercanda selagi bisa
) nah terang donk … kalo udah ketemu tanjakan ngehe’ gimana mo becanda
Sampai di lokasi Danau Lido, sesudah sedikit kebingungan tentang tempat parkir, dan memulai offroad, maka datang mobil rombongan guide kita dan menunjukkan tempat parkir, yaitu dekat dengan lapangan terbang gantole, dan tempat penyewaan ATV (All Terrain Vehicle).

Setelah mobil parkir maka semua peserta turun dari mobil, dan melakukan persiapan diri. Mulai dari bagi-bagi P3K, minuman, dan makanan. Ooo iya di dekat tempat kita parkir juga sudah ada beberapa pesepeda yang sedang siap-siap juga untuk offroad … dilihat dari frame yang mereka pakai seh nama dengan harga mahal semua (Kona, KHS)
Truk pengangkut sepeda sudah kelihatan, dan kita semua bersiap-siap untuk menurunkan sepeda, memasang roda depan, sedikit testing, dan berangkat.
Jalur pertama yang dilalui adalah jalan melewati ladang-ladang petani, dan juga bisa dilewati ATV. Keluar dari jalur di antara ladang-ladang pertanian, lalu kembali muncul ke jalanan denga pavling block. Melewati perkampungan penduduk sebentar, lalu kembali memasuki kawasan perladangan. Sebagai catatan, dari awal track jalan terus menanjak, tidak ada bonus turunan, bonus hanya berupa jalan datar di antara pavling block sampai ke kawasan penduduk saja. Setelah memasuki area ladang, tanjakan semakin terjal terasa. Sampai di ujung jalan terdapat pertigaan, belok kanan tanjakan, belok kiri turunan, ingin rasanya memilih untuk belok kiri, tapi ternyata track yang harus dilalui adalah belok kanan … tanjakan.
Lagi-lagi tanjakan, dan kali ini terlihat di depan, tanjakan lebih terjal dibanding track-track sebelumnya. Langsung saja saya pasang gear depan ke posisi paling kecil, dan gear belakang nomor 2. Untuk mengantisipasi tanjakan ini saya lebih memilih rpm tinggi daripada harus terlalu menekan pedal, mengingat lutut kiri saya masih belum benar-benar sembuh. Di tengah-tengah tanjakan terdengar detak jantung yang tinggi, dan juga nafas yang tersengal-sengal, tetapi saya teruskan untuk memutar pedal agar bisa sampai atas tanjakan tanpa perlu turun dari sepeda. Akhirnya sampai juga di atas … horee … setelah detak jantung kembali stabil, gear depan dinaikkan satu tingkat … gear belakang diturunkan 2 tingkat. Tidak berlama kemudian sampai deh di pos pemberhentian pertama, yaitu batas antara ladang pertanian dan kawasan hutan yang rimbun.
Memasuki kawasan ini diawali dengan turunan yang lumayan sebagai bonus, dan juga didukung oleh rimbunnya pepohonan di kanan kiri, sehingga menyebabkan kesan rimbun sangat terasa, ditambah lagi dengan cuaca yang sedikit mendung. Signal GPS sempat loss di daerah ini. Setelah bonus turunan yang sedikit selesai … welcome … tanjakan laghee … fiiuuuhhh. Area jalan yang berbatu di sisi kiri kanan membuat saya lebih memilih jalur diantara bebatuan tersebut yang bertanah. Jika area yang bertanah tampak tidak rata, saya memilih jalur di samping jalur bebatuan yang masih bertanah, meski sedikit sempit.
Jalur yang menanjak dan terus menanjak, mau tidak mau membuat saya beberapa kali turun dari sepeda dan menuntun sepeda (ttb). Setelah detak jantung kembali normal, dan juga napas sudah teratur, baru naik kembali ke sepeda
Dan tidak beberapa lama, sampai juga di pos puncak yaitu di Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol. Kenapa saya katakan pos puncak, karena sekarang kita berada di ketinggian 797 dpl, dan track sehabis ini adalah banyak terdiri dari turunan.
Di tempat ini kita semua istirahat sebentar, makan roti yang dibawa dari pos pemberangkatan tadi. Dan selanjutnya diputuskan bahwa akan pergi ke kanopi. Setelah menanyakan tarif untuk memasuki kanopi tersebut, ternyata lumayan mahal, 25rb per orang. Wuah rombongan kita ada 14 orang, jadi biaya total sekitar 350rb … hmm masuk budget pa gak yaa ini … karena sebelumnya memang tidak ada agenda untuk mengunjungi kanopi ini. Setelah negosiasi dengan crew penjaga kanopi, disepakati bayar 100rb untuk semua orang, ya udah akhirnya berangkat deh. Tapi saya lebih memilih tinggal di post tersebut, dikarenakan lutut saya masih agak sakit untuk mendaki atau menurun dengan jalan kaki, sekaligus bisa istirahat disitu. Ditambah lagi seorang teman di post, jadi 12 orang lainnya berangkat menuju kanopi.
Setelah semua orang kembali dari kanopi segera kita lanjutkan perjalanan untuk melewati medan turunan, yang kabarnya lumayan terjal juga, untuk menuju ke pos pemberangkatan tadi.
Memasuki area turunan ini memang perlu extra hati-hati, selain itu juga harus memainkan tuas rem. Karena disarankan rem jangan sampai lock, dan juga jangan terlalu lepas, jadi saya coba pakai cara tekan tuas rem sampai hampir terasa lock, lepas dikit, tekan lagi, dibantu dengan rem depan bersamaan dengan rem belakang. Dan juga pemilihan jalur cukup penting, karena salah memilih jalur bisa jadi nyungsep. Ini terbukti pada salah satu rekan yang sempet nyungsep karena salah memilih jalur. Setelah berhenti sebentar, dan dipastikan semuanya baik, maka perjalanan dilanjutkan kembali. Masih melewati turunan terjal.
Jalan lagi pelan-pelan, tidak berapa jauh di depan tampak juga 2 gerombolan orang berhenti di sisi kanan jalan. Saya pikir memang lagi istirahat, karena yang seorang kaosnya dilepas. Saya hanya lewati saja gerombolan yang pertama ini karena saya pikir istirahat, tetapi setelah agak kebawah lagi baru tau kalau ada rekan saya yang jatuh juga, posisi sepeda tergeletak di tanah, sedangkan orangnya masih duduk di pinggiran, dengan sepatu terlepas. Spontan saya juga ikut menghentikan sepeda mengikuti rekan yang lain, untuk menolong yang jatuh tersebut.
Check sepeda ternyata FORK nya PATAH … wuahh cukup parah juga berarti jatuhnya … dan saat itu baru tau juga bahwa gerombolan yang di atas tadi juga kecelakaan, dan bapak yang kaosnya dilepas tersebut, karena disobek-sobek untuk perban luka rekannya yang luka di bagian betis. Hmm kembali lagi ke sepeda dengan fork yang patah. Atas usul salah satu rekan, maka kami mencari kayu untuk sekedar “menyambung” fork yang patah tadi, tapi sebenernya tetap tidak bisa mengatasi permasalahan. Dan setelah itu rekan yang jatuh tadi mulai bisa diajak berkomunikasi, tetapi anehnya dia menanyakan pertanyaan yang sama berulang-ulang, meskipun kita semua sudah menjawabnya berkali-kali juga. Wuah kita semua saling pandang … ini karena masih shock aja … atau karena sebab lain … hmm tidak berani menduga-duga yang lebih jauh. Gerombolan yang terluka di atas tadi memanggil ketua rombongan kita, setelah berbicara sebentar akhirnya sepakat menggunakan Land Rover untuk mengangkut para peserta yang mengalami kecelakaan tersebut. Tentu saja Land Rover sulit untuk mecapai daerah tersebut, maka mau tidak mau para “korban” kecelakaan musti berjalan lagi ke atas, untungnya dari pihak pemilik Land Rover ada 2 orang yang menjemput, sehingga bisa membantu. Ooo iya pada saat ini, diputuskan untuk membagi kelompok menjadi 2 team, satu team turun terlebih dahulu, sedangkan team satu lagi menunggu sampai semua “korban” kecelakaan diangkut ke Land Rover.
Setelah semua selesai diangkut (meski belum sampai ke Land Rover) maka team kedua, termasuk saya, segera melanjutkan perjalanan menuruni area terjal ini. Setelah melewati area hutan pinus (tentu saja jalan masih menurun), kembali memasuki kawasan ladang penduduk, jalanan banyak ditumbuhi rumput di kanan kiri, dan jalanan berdebu.
Memasuki kawasan perkampungan penduduk, jalan masih terus menurun, sampai di pertigaan, team kedua bingung, meski sebelumnya sempet dikasih tau team 1 kemana arah jalan, tp tadi waktu masih konsentrasi turunan
Belok ke kiri jalanan melewati bukit yang menanjak pastinya … tuinggi booww … giling aja kalo mesti lewat situ, belok kanan jalanan relatif menurun dan datar. Ada dua anak kecil melewati team 2 dan akhirnya bertanya, jawabannya membuat lebih bingung lagi, mereka bilang untuk menuju Lido bisa melewati kedua jalan tersebut … nah lhoo. Setelah ditanya orang pake sepeda banyak lewat mana, maka dijawab lewat yang sebelah kanan
Sebagai ucapan terimakasih, salah satu member team memberikan uang tanda terimakasih
Akhirnya kita ambil jalan ke kanan, karena relatif lebih santai. Memasuki kawasan penduduk yang lebih ramai, dan melewati jalan-jalan desa yang lumayan cukup baik. Setelah berada di kawasan desa yang rumah penduduknya jarang-jarang, jalanpun semakin berbatu-batu, cukup untuk test keempukan sadel. Di tengah jalan ada contact radio dengan team 1, diberitahu kalau sampai kantor kepala desa ada pertigaan, ambil belok ke kanan. Setelah melewati beberapa tanjakan berbatu … duuh beratnya jalan berbatu-batu … akhirnya nemu turunan juga … masih berbatu-batu … penasaran karena apa kantor kepala desa sudah terlewati. Sambil penasaran, mencari-cari, dan masih juga berusaha contact radio dengan team 1. Tetapi masih belum bertemu dengan kantor kepala desa yang dimaksud … lumayan bingung juga
Setelah di ujung jalan terlihat portal, ternyata kantor kepala desa ada di sebelah kiri, berarti setelah ini belok kanan
Mengikuti jalan yang aspal masih lumayan baik, kita lurus terus sampai di ujung jalan ada pertigaan, belok ke kiri, setelah itu belok ke kanan sampai di jalan raya yang pada waktu berangkat tadi dilewatin. Lurus mengikuti jalan raya yang lalu lintasnya rame, dilalui oleh “monster-monster” besar … truk ukuran dumbo, bus akap (antar kota antar propinsi) … dumbo juga donk. Tapi cuek saja tetap genjot sampai di pintu masuk kawasan resort Lido Lake, belok kiri masuk ke jalanan pavling block … hurray dah hampir sampe … eiitt tapi tunggu dulu mampir warung, beli minumam. Lanjut genjot lagi … asikk turunan … tidak beberapa lama turunan abis … jalan datar, tapi saya tahu sebelum belokan ke tempat parkir jalanan menanjak … duuuhh. Nanjak lagi … ternyata tanjakan sudutnya tidak terlalu tinggi, tapi panjang juga tanjakannya … bikin ngos-ngosan juga … fiiuuhh.
Sampai belokan .. senengnya … jalan datar dan gak lama lagi sampe di parkiran …. hurray … sampe juga di parkiran … sambutan meriah teman-teman yang udah sampai sebelumnya
Istirahat bentar, setelah semua peserta offroad berkumpul, termasuk yang tadi sempet jatuh, akhirnya diputuskan secepatnya kembali ke “markas”. Sepeda segera dilepas roda depan, dinaekin truk, dan segera berangkat menuju “markas”
laper boow … karena truk harus mengambil sepeda yang ditaruh di puskesmas terlebih dahulu, maka truk akan berangkat duluan, dan karena rencana kita akan mampir makan terlebih dahulu, maka kesepakatan dengan pemilik truk nanti sepeda akan langsung diturunkan di kantor.
Perjalanan pulang agak macet, mampir ke resto … upss mahal gak yaa … berunding sebentar … gak jadi makan di resto, takut budget gak cukup. Jalan lagi setelah bayar parkir ke tukang parkir resto tersebut. Nemu juga warung di pinggir jalan … hurray .. makannn … akhirnya makan juga … nyam nyam nyam. Setelah kenyang ditotal semua, bayar (masih masuk bidget lhoo…) trus dilanjut lagi perjalanan. Dah kenyang … tidur deh selama di tol. Terbangun setelah memasuki tol arah pondok indah. Uww dan gak lama … hurraayy sampe “markas” juga akhirnya.
Terlihat sepeda sudah diturunkan, tapi truk masih ada di situ. Setelah kita datang, pemilik truk pun berpamitan. Pasang roda depan, semprot-semprot bentar, trus pulang ke rumah deh. Sampai di rumah beli baso, es campur …
Abis sholat isya’ tidur deh … Zzzzz
Entry Filed under: Sepeda. .
4 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed






1.
spedaman | Juli 24, 2006 at 8:17 am
walaaaah kecelakaanya parah to…
wuih ati2,, baca doa dulu sebelum genjot.
btw kok pas ketemu pertigaan setelah turunan,kenapa ga belok kiri?
meskipun harus muterin bukit tapi pemandangannya indaaaaaah bgt! bisa ngeliat dengan jelas gunung salak dan pematang sawah dibawahnya kyk karpet yg dibentangkan….
2.
tony | Juli 24, 2006 at 12:13 pm
semoga cepat sembuh yaaa, aku juga bareng sama b2w ke lido bedogol . mungkin lebih dulu jalanannya.
3.
dryae | Juli 24, 2006 at 1:50 pm
ceritane mbulet, sayang gak ono fotoneHud.
wis nyoba nang gunung pancar? Seru lho, aku wis pernah tapi dalam rangka motret dan naik motor
tenang, sepeda sedang merayu ojob buat ngegolin budget
4.
Huda | Juli 24, 2006 at 7:21 pm
#1 Wuiks ngeri tuuh kalo belok kiri
#2 Terimakasih om tony
Wah kapan ya itu om kesananya ? apa tanggal 22 juga ?
#3 mbulet piye Ndri, iki timeline based lhoo
sipp cepetan punya sepeda yoo gene iso b2w dan offroad